Famy Bi Syauqin : Rumus Hatam Al-Qur'an dalam Seminggu

Sebagai muslim kita diperintahkan untuk memperbanyak membaca kitab suci Al-Qur’an. Anjuran ini tak hanya untuk para penghafal kalam Allah saja tetapi diperuntukkan juga bagi semua umat Islam dari anak-anak sampai dewasa. Kebiasaan membaca Al-Qur’an sudah dilakukan oleh Nabi SAW serta sahabatnya yang mulia di masa di mana Al-Qur’an diturunkan di tengah-tengah mereka. Kebiasaan itu turun-temurun dilakukan oleh umatnya sampai datangnya hari kiamat sebagai bentuk terjaganya kitab suci ini oleh Allah SWT.

Famy Bi Syauqin : Rumus Hatam Al-Qur'an dalam Seminggu

Adat jumlah lama waktu yang diperlukan oleh ulama salaf berbeda-beda dalam menghatamkan Al-Qur’an. Ada dari mereka yang hatam dalam dua bulan, satu bulan, 10 hari, 8 hari, 7 hari, 6 hari, 5 hari, 4 hari, 3 hari, 2 hari bahkan terdapat ulama salaf yang mampu menghatamkannya dalam satu hari satu malam dengan satu hataman sampai 8 hataman sehari. Sebagai muslim maka hendaknya bijak dalam memilih riwayat-riwayat tersebut yang sesuai dengan kondisinya. Tidak semua kondisi sesorang dapat disamakan dengan individu yang lain. Bagi seseorang yang disibukkan dengan nasyrul ‘ilmi (dakwah ilmu) atau urusan yang memberikan kemaslahatan bagi masyarakat umum atau alasan lain yang dibenarkan maka hendaknya mereka membaca Al-Qur’an sesuai dengan kemampuaannya yang tidak sampai menggugurkan kewajiban mereka sehari-hari dan masih dapat memahami makna ayat yang dibaca. Keterangan ini dijelaskan oleh Abu Zakariya Yahya dalam kitabnya At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an. Ditambahkan olehnya  bagi mereka yang tidak disibukkan dengan-hal-hal tersebut untuk memperbanyak membaca Al-Qur’an dengan pelan-pelan dan tidak membacanya dengan cepat. 

والإختيار أن ذلك يختلف باختلاف الأشخاص فمن كان يظهر له بدقيق الفكرلطائف ومعارف فليقتصر على قدر ما يحصل له كمال فهم ما يقرؤه وكذا من كان مشغولا بنشر العلم أو غيره من مهمات الدين ومصالح المسلمين العامة فليقتصرعلى قدرلا يحصل بسببه إخلال بما هو مرصد له وإن لم يكن من هؤلاء المذكورين فليستكثر ما أمكنه من غير خروج إلى حد الملل والهذرمة

Terjemah: Yang dipilih (dari bermacam-macam waktu menghatamkan Al-Qur’an) adalah berbeda-beda sesuai dengan keadaan setiap individu. Maka bagi seseorang yang mengisi hari-harinya dengan banyak belajar maka hendaknya menyedikitkan dalam menbaca Al-Qur’an sesuai dengan kadar untuk memahami ayat yang dibaca dengan sempurna. Begitu juga bagi orang-orang yang disibukkan dengan mengajarkan ilmu atau kepentingan umat maka hendaknya menyedikitkan bacaannya dengan kadar ia tidak akan mengurangi kewajibannya yang harus dilakukan. Jika bukan termasuk orang-orang tersebut maka hendaknya memperbanyak membaca Al-Qur’an sebisa mungkin sampai tidak menimbulkan kebosanan dan membacanya dengan pelan-pelan. (At-Tibyan fi Adabi Hamalatil Qur’an).


Dari berbagai macam lamanya waktu yang diperlukan oleh Ulama’ salaf dalam menghatamkan Al-Qur’an, banyak dari mereka yang menghatamkan membaca Al-Qur’an dalam satu minggu. An-Nawawi menjelaskan, jika hal ini dilakukan dalam satu minggu maka lebih baik dimulai pada Kamis malam Jumu’ah (penanggalan Hijriyyah sudah masuk hari Jumu’ah) dan diselesaikan pada hari Kamis. Beberapa guruku seperti KH. Maftuh Bastul Birri rahimahullah dan ulama’ Al-Qur’an lainnya menggunakan rumus Fami bi Syauqin/ فمي بشوق (mulutku dalan kerinduan dalam membaca Al-Qur’an) yang setiap hurufnya bearti awal surah yang dibaca dalam setiap harinya sebagai berikut:

Jumu’ah : ف (Fatihah sampai An-Nisa’)

Sabtu :  م  (Ma’idah sampai At-Taubah)

Ahad : ي  ( Yunus sampai An-Nahl)

Senin : ب  (Bani Israil sampai Al-Furqan)

Selasa : ش  (As-Syu’ara’ sampai Yasiin)

Rabu : و    ( Wa-Shoffāt / As-Shaffat) sampai Al-Hujurat)

Kamis :ق   ( Qaf sampai An-Nas)


Rumus ini dibaca mulai hari Jumu’ah (Kamis malam) dan diakhiri di hari Kamis sebelum Magrib meskipun tetap diperbolehkan tidak mengikuti aturan permulaan hari di malam Jumu’ah. Begitulah rumus Fami bi Syauqin yang diharapkan dapat benar-benar menjadikan mulut kita selalu rindu untuk membaca Al-Qur’an. Semoga bermanfaat. 

0 Komentar